
Ngebayangin, hari dimana ada laki-laki yang mau mengikatkan hidupnya dengan hidupmu, menerima dirimu sebagai tanggung jawabnya menggantikan tugas kedua ortumu, berjanji untuk membimbingmu menuju kebaikan dan berperan sebagai penunjuk arah dalam hidupmu. Bersedia untuk selalu, senantiasa menjadi bahu untuk setiap tetes airmata yang akan tumpah, untuk selalu menggenggam tanganmu ketika kau tak tau arah kemanakah kaki akan membawamu. Di hari itu, laki-laki itu berjanji untuk selalu, senantiasa, akan menemanimu dalam keadaan apapun kamu, dalam wajah yang luar biasa sempurna, saat kerut wajah itu belum ada, bahkan sampai kulit halus itu berganti dengan kerutan halus dan gigi yang tak lagi mampu mengunyah.
Tuhan, membayangkan itu semua… hati ini tergetar.
Saya tau, saya ini jauh sekali dari sempurna. Fisikly, hahaha… completely just ordinary woman. Cewek berisi ‘banyak daging lah’ cenderung gemuk, yang saat ini aja udah di ultimatum boleh gendut tapi ngga boleh gembrot, hahaha.. entahlah apa maksudnya. Ngga ada yang istimewa dalam diri saya. Kadang saya juga heran, dia, laki-laki itu, menghapus semua keraguan dalam dirinya dan meminta saya menjadi bagian dari hidupnya.
Iya, saya memang engga sempurna. Jauh sekali dari itu malahan, masih suka marah-marah ngga jelas ama dia, terlebih kalo PMT (Pre Menstruation Tension) lagi tinggi-tingginya. Apa yang dia bilang kayak silet gitu rasanya, apa yang dia lakukan seperti semuanya salah. Saya tiba-tiba menjadi si ms. Perfectionist yang menginginkan semuanya terencana dan seperti engga mau ama dia yang lebih suka mengalir seperti air. Hmmmhhh…
Perfect, maybe it’s –definitely- not my middle name. Masih banyak sekali yang harus saya perbaiki dalam diri saya. Tentu saja saya menyadari betul hal itu. Justru itulah mungkin yang akan saya persembahkan untuk laki-laki yang mengikrarkan dirinya untuk menjadi imam saya di hari bersejarah itu. Bukan kesempurnaan yang akan saya berikan kepada dirinya. Justru ketidak sempurnaan ini, yang akan menjadi lebih sempurna dengan adanya dirinya di samping saya, itulah yang akan saya berikan. Bukan kesempurnaan yang tidak perlu di lengkapi lagi, tapi kekurangan ini yang akan menjadi lengkap dan lebih baik dengan adanya dia di samping saya, itu yang saya harapkan. Justru bukan kesempurnaan yangmembosankan, tapi nantinya akan ada banyak sekali pengalaman yang lebih menyenangkan menuju perbaikan diri bersama-sama, itu yang saya janjikan.
Tuhan, jika dia memang laki-laki yang Engkau ikatkan benang merahnya pada kelingking hamba, maka mudahkan jalan kami menuju rahmat dan ridho-Mu. Menjalani kehidupan berikutnya dengan lebih baik demi menggapai surgaMu ya Rabb…
Amien.
Bogor, 8 June 2009.





